Archive

Archive for the ‘Ethek-Ewer’ Category

:: Mandala, Interpretasi Pondasi Sebuah Candi ::

August 11, 2011 1 comment

Mandala, Tantric Symbol of Integration

Sebuah old-fashioned way yang dulu sering saya lakukan manakala sedang di rundung kegalauan adalah menulis. Tulisan kali ini pun lahir sebagai bagian dari usaha saya dalam menghibur diri selepas kepergian seseorang yang begitu saya sayangi. Seseorang yang mungkin lebih menyerupai ibu kandung bagi saya sendiri, beliau yang juga telah mengajarkan banyak hal dan memberikan teladan dalam berperilaku serta bertutur kata. Semoga semua yang telah engkau berikan bisa menjadi pondasi yang kokoh bagiku dalam menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. Selamat Jalan Mami Kantin SMA 3 Yogyakarta. Terima Kasih.

Mandala awalnya adalah merupakan Simbol Kesatuan yang umum digunakan oleh kaum/kalangan Tantric di India. Mengacu kepada sejarah dan filosofi Buddha pada awal perkembangannya, terdapat 3 aliran yang umum diterima di masyarakat yakni Hinayana, Mahayana dan Vajrayana. Kaum Tantric sendiri menunjuk kepada golongan penganut salah satu dari ketiga aliran suci dalam agama Buddha tersebut yakni Vajrayana atau lebih dikenal dengan nama Tantrayana. Aliran ini tergolong unik karena mereka juga memuja Dewa-Dewa agama Hindu di dalam sistem Pantheon mereka.  Tantras yang juga merupakan kitab suci aliran Tantrayana ini kemudian berkembang menjadi suatu istilah yang mewakili golongan tersebut yakni Tantric.

Mandala dalam bahasa Sanskrit  (Mandhala) adalah berarti Lingkaran atau wilayah. Deskripsi lebih lanjut, Mandala adalah bentuk simbolik dari suatu lingkaran. Simbolik dalam pengertian bahwa bentuk tersebut tidaklah sepenuhnya menyerupai lingkaran akan tetapi hanyalah berupa 5 titik dengan kedudukan yang berbeda.

Bentuk Dasar Mandala

Titik pusat (center) berada di tengah sedangkan keempat titik lainnya berada pada masing masing 4 titik sudutnya (square). Kelima titik tersebut dianggap mewakili 5 forms of Buddhas yang dapat dibedakan melalui gesture pada kedua tangannya.

Read more…

Advertisements

:: Stagnansi dan Penyakit Comfort Zone ::

May 31, 2011 2 comments

Tiap orang mungkin pernah mengalami suatu periode dimana segala kondisi terasa stuck, tanpa progress yang berarti atau sedikit progress pada tingkatan yang sangat lambat. Rutinitas yang terlaksana pun hanyalah karena kewajiban dan tanggung jawab yang sifatnya terbatas. Inovasi dan kreativitas mengering di dalam sebuah otak yang tumpul. Jenuh, bosah, lelah dan mengarah pada disorientation. Jika ini adalah sebuah TalkShow dan seorang audience bertanya pada saya, saya akan menjawab lantang “Yoi.., gw pernah ngalamin kek gitu…!!”.

 

Lalu apa yang kemudian saya rasakan?

Seperti berdampingan dengan kura-kura ke dalam lintasan lari, saya berkubang di tengah kebosanan yang luar biasa. Pikiran-pikiran saya seperti menjadi tamu di benak sendiri. Ide itu selalu ada, maybe, tapi effort is definetly zero. Saya menjadi pribadi yang kurang produktif dan terancam menjadi parasit bagi sesama.

Saya menyebut hal itu sebagai sebuah stagnansi.

 

Lama saya melakukan diagnosis mengenai penyakit tersebut sebelum benar-benar memutuskan untuk menemui  dr.Wikipedia. Beliau menggarisbawahi poin2 penting yang perlu saya benahi dalam kehidupan saya. Diantaranya adalah mengenai “Comfort Zone”  (Zona Kenyamanan). Indikasi bahwa seseorang berada di dalam Zona Kenyamanan ini ditandai rendahnya rasa kekhawatiran (Worry), tingginya tingkat kebosanan (Boredom), berkurangnya Kontrol Diri serta meningkatnya keinginan untuk Relax. Secara simple, kita merasa nyaman apabila segala kebutuhan kita telah terpenuhi seluruhnya, atau segala kebutuhan tersebut dapat kita peroleh secara mudah. Implikasi dari kondisi tersebut adalah menurunnya performance kerja dan kecenderungan untuk Steady, yang pada akhirnya menciptakan stagnansi.

 

Stagnansi memiliki beberapa tingkat berdasarkan acuan kondisi mental dan sosial mereka yang mengalaminya. Umumnya dimulai dengan tingkat kebosanan yang bertambah dan repetisi terhadap suatu aktifitas yang terasa semakin sering. Kualitas hasil pekerjaan tak ada peningkatan dan boleh dibilang “ngikutin SOP doank..”. Kontribusi terhadap sosial berkurang dan interaksi hanya sebatas rutinitas yang harus dijalani. Pada tingkatan yang paling parah, kualitas hidupnya tidak bertambah baik dan cenderung monoton. Kebutuhan sosial mulai terabaikan dan rutinitas hanya sebatas pemenuhan kebutuhan hidupnya sendiri.

 

Mengacu kepada paragraf di atas, saya meluangkan waktu menilik sejenak keseharian saya. Dengan besar hati, saya menikmati fakta bahwa saya dibesarkan dalam kultur keluarga jawa yang realistis, yang menghargai kerja dan memahami apresiasi terhadap kerja. Ironisnya, kultur Jawa dimana saya dibesarkan cenderung menstimulasi pemikiran saya menjadi Chaos. Terutama dengan petuah2 para sesepuh yang berbunyi “Urip Rasah Ngoyo” (Hidup Jangan Ngotot) dan“Alon alon waton kelakon” (Pelan-pelan asal terlaksana), yang kalo boleh saya interpretasikan sebagai kondisi yang steady (mendekati stagnan) atau kondisi dengan sedikit progress pada tingkatan yang sangat lambat. Saya hanya mengerti bahwa Budaya dekat dengan Bahasa, andaikata demikian,

 

“Apakah selama ini masyarakat dalam kultur saya menikmati stagnansi….?”

 

Cukup bagi saya mencermati permasalahan tersebut dan mengambil tindakan. Secara jujur, yang saya lakukan kala itu adalah berusaha sebisa mungkin menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas, melaksanakan tanggung jawab dan memberikan kontribusi baik terhadap lingkungan terdekat maupun bagi orang lain. Mengembangkan kreativitas adalah cara lain yang sering saya lakukan, disamping pendalaman terhadap minat dan selalu berusaha menghasilkan karya yang positif.

 

Saya bukan guru, karena saya tidak mencerdaskan orang. Sekedar berbagi dan berusaha menelaah dimana harus menempatkan diri sebagai “yang diam” atau “yang berjalan”. Katakanlah Win-Win Solution tidak berlaku di sini karena hidup itu One Way, maka kita akan menemukan 2 pilihan tersisa yaitu; mereka yang ingin keluar dari zona kenyamanan dan mereka yang ingin tetap berdiam dalam zona kenyamanan.

 

Kenali diri kalian dan lakukanlah sesuatu terhadapnya

 

 

 

 

Life belongs to the living, and he/she who lives must be prepared for changes.

                                                                                                                  – J.W Goethe –

 

 

 

 

Best Regards

 

Yoedana, Angga Satya

Categories: Articles, Ethek-Ewer Tags: ,

Ngapain Aku bikin BLOG…..?

July 20, 2010 Leave a comment

Kesampean juga akhirnya punya Blog sndiri.

Ni blog dibikin buat tempat uneg-uneg. Kalo inget dulu wktu SMA biasa nulis di buku tulis, skarang boleh dibilang “lebih beradab” dikit. Aneh juga rasanya, pdhl ni domain bikinnya udah hampir setahun yang lalu. Tapi baru sempet ngurusin sekarang. Maklumlah, namanya juga mahasiswa lg skripsi (**pdhl jarang dikerjain). Udah hmpir 6 taon kuliah tapi belum kelar-kelar jg. Smentara waktu terus berlari, undangan terus menghampiri. Setengah taon belakangan ini emang lagi sering dapet undangan nikah dari temen-temen SMA, temen-temen SMP, bahkan temen-temen kuliah. Lama-lama “bete” juga ni. Tp mo gmana lagi. Kalo denger kabar dari temen-temen yang udah settle di Ibukota, aku jadi sering mikir. “What`s so special about Jakarta?” Kota kumuh gitu…., berisik, polusi dmana-mana, udh gitu mo ngapa-ngapain musti keluar uang. Pipis bayar 2000, parkir 5000, bayar tol 20.000, beli makan paling murah 15.000. Mendingan aku settle di Jogja. Tapi kadang pengen juga jadi anak perantauan. Jauh dari ortu, ngapa-ngapain sndiri. Mungkin baru setaon, dua taon lagi bisa kabur dari jogja… Aku terlalu sayang sama kota ini. Bwahahahahaha….. ni postingan perdana koq isinya acak-adut gini. Hahahaha… See ya

Categories: Ethek-Ewer Tags:
%d bloggers like this: