Home > Articles, History > :: Dwarapala: “Konco Kenthel” Dalam Naungan Zaman ::

:: Dwarapala: “Konco Kenthel” Dalam Naungan Zaman ::

Gambar Dwarapala

Kata Dwarapala berasal dari bahasa Sanskrit, “Dwara” yang memiliki makna “pintu gerbang/gapura” dan “Gopala” yang memiliki makna “penjaga”. Dalam Bahasa Jawa, Dwarapala lebih dikenal dengan nama “Retjo Pentung” atau GUPOLO”. Hmm, apakah nama itu cukup familiar bagi anda? Saya akan menjawab perlahan, “ya”.

Istilah Dwarapala sendiri menunjuk kepada peninggalan purbakala berupa sebuah patung penjaga pintu gerbang yang biasa terdapat pada pintu masuk sebuah bangunan candi, kuil, istana atau tempat peribadatan suci lainnya. Patung ini biasa ditempatkan secara berpasangan dan saling simetris mengapit jalan masuk menuju lokasi bangunan utama. Keberadaan Dwarapala ini memiliki filosofi yang serupa dengan Dharmapala (Pelindung Dharma), yakni sebagai penolak bala terhadap kekuatan-kekuatan jahat yang akan merusak bangunan suci tersebut.

Gambar Dwarapala saling menghadap


Dwarapala ini digambarkan memiliki bentuk manusia atau monster yang menyeramkan dengan beragam attribut yang melekat di tubuh dan kepalanya. Pendefinisian menyeluruh mengenai patung ini adalah berukuran raksasa dengan panjang 1,6 meter, lebar 1,2 meter dan tinggi berkisar antara 2-4 meter, memiliki berat 3-7 ton, terbuat dari pahatan batu andesit, bertelanjang dada dengan puting keduniawian nampak jelas, berperawakan buncit bak koruptor serta digambarkan dalam posisi tubuh setengah berlutut, mata melotot, dan salah satu tangannya menggenggam senjata berupa gada.



Adapun attribut lain yang biasa melekat pada patung ini adalah mahkota pada kepala, tali bermotif sulur/floral yang menyilang dari bahu hingga ke perut serta memakai anting dan kalung bermotif tengkorak. Tidak ditemukan adanya ketentuan dan standar yang baku mengenai bentuk dan ukuran Gupolo ini karena tiap patung memiliki ciri khas masing-masing seperti bentuk taring, kumis, dan motif pada attribut yang dikenakan. Dwarapala terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia berada di Malang, di wilayah yang diduga merupakan bekas wilayah kerajaan Singosari. Memiliki tinggi sekitar 3,7 meter dan berat kurang lebih 8 ton!! (**foto paling atas).

Mengenai postur, ekspresi dan attribut yang umum dikenakan oleh seorang prajurit pada zaman itu, rasanya cukup beralasan untuk sekedar mengetahui, “Siapakah orang yang beruntung menjadi model dalam proses pembuatannya?”. Kesan garang dan menakutkan yang ditonjolkan mungkin akan membuat beberapa produser jatuh hati untuk kemudian menjadikannya sebagai pemeran antagonis dalam sinetron “Putri Yang Ditukar”. If he does exist. Tidak ada kejelasan mengenai kapan dan siapakah orang yang pertama kali membuatnya karena kebanyakan dari raksasa ini tidak memiliki angka tahun pembuatan sehingga para arkeolog hanya dapat memperkirakan usia dari patung ini. Lebih lanjut, kelompok arca-arca Dwarapala yang ditemukan di dalam kompleks Candi Sewu, Jawa Tengah, mungkin dapat sedikit memberikan gambaran mengenai tahun tahun awal pembuatannya.

Gambar Foto udara Candi Sewu yang membentuk pola Mandala


Arca-arca Dwarapala yang ditemukan di dalam kompleks Candi Sewu, Jawa Tengah seluruhnya berjumlah 8 buah dan terletak pada keempat penjuru pintu masuknya, dengan posisi saling berhadapan satu sama lain mengapit jalan masuk ke bangunan utama. Arca ini di letakkan di atas sebuah batu pondasi yang disusun menggunakan sistem “pasak” dan “batu pengunci” yang disebut Asana. Keempat pasang Dwarapala yang terdapat pada tiap penjuru mata angin tersebut merupakan interpretasi dari kosmologi Hindu. Dinyatakan dalam kosmologi hindu bahwa Mandala merupakan perwujudan alam semesta dengan 4 penjuru mata angin, sedangkan candi adalah replika dari mandala itu sendiri dengan Dwarapala  sebagai pembimbing manusia dalam menemukan jalan menuju sang pencipta. Hal yang menjadikan Dwarapala  ini spesial adalah, para arkeolog menganggapnya sebagai “yang tertua” diantara arca-arca Dwarapala lainnya yang ditemukan di lokasi berbeda di Indonesia. Dwarapala yang ditemukan di Candi Penataran di Blitar, Candi Plaosan di Kalasan, Candi Muaro Jambi di Jambi, Candi Singasari di Malang dan Candi Sukuh di Karanganyar masing masing berangka tahun (1320 M, ±900 M, ±800 M, ±1200 M, 1437 M)


Mengacu kepada temuan Prasasti Manjusrigrha (Prasasti Kelurak) di dalam kompleks Candi Sewu (berangka tahun 714 Saka/792 M), mengenai “penyempurnaan bangunan Candi Sewu pada tahun 792 M di masa pemerintahan Sri Maharaja Rakai Panabaran (784-803 M)”, maka dapat disimpulkan bahwa bangunan-bangunan yang terdapat di dalam kompleks Candi Sewu (termasuk Dwarapala) telah berdiri sebelum tahun 792 M yakni antara tahun 750 M – 792 M dan kemungkinan besar di bangun pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rakai Panangkaran (746-784 M) yang merupakan kakak dari Rakai Panabaran.

Gambar Prasasti Manjusrigrha


Kutipan Prasasti Manjusrigrha

….pada tahun 714 Saka, bulan Karttika, tanggal 14 paroterang, Jum`at Was, Pon, dang nayaka dilandalurawa menyempurnakan prasada bernama Wajrasana Manjusrigrha. Puaslah hati mereka yang ikut bergotong-royong. Setelah dang hyang dasadisa selesai diwujudkan untuk usaha mulia tersebut. Orang-orang dari segala penjuru berdatangan untuk mengagumi persembahan (bangunan) dari orang-orang yang telah meninggal dan berkorban….”

Ada fakta yang mungkin bisa kita temukan manakala mengunjungi situs-situs peninggalan purbakala dimana terdapat sosok Dwarapala. Adalah “alasan keberadaannya terhadap bangunan induk”, yang kemudian menjadikannya seperti “terabaikan”. Pamornya seolah tenggelam di balik kemegahan bangunan utama.

Marilah kita melihat lebih dalam sejenak, sebagai generasi yang mewarisi buku harian nenek moyang sekaligus sebagai generasi yang merangkum kehidupan bagi anak cucu. Ada pesan dan nilai-nilai yang belum kita sentuh di balik sosok Guardian Over Time itu. Penjaga, pelayan dan simbol kesetiaan terhadap kreatornya selama beratus-ratus tahun. Seperti seorang sahabat (*konco kenthel) dari masa lalu yang telah hidup mengarungi “Nusantara bertopeng Gadjah Mada” hingga “Nusantara bertopeng Republik”.

Anggaplah Rakai Panangkaran, Samaratungga ataupun Jayanegara sebagai seorang negarawan sekaligus ayah yang bijak pada masanya. Cukup bijak untuk sekedar meninggalkan pesan kepada anak cucunya melalui sebuah batu.

“ Ada sesuatu di belakang Dwarapala itu yang harus kalian jaga dan kalian pelihara.”

Dan sebuah pertanyaan yang akan mengakhiri tulisan ini,

“Mampukah kita melakukannya?”

Sumber :

– Kurnia, Candra :  “Arca  Dwarapala  di  Kompleks  Candi  Penataran”

– Kusumajaya, I Made : “Candi Sewu: Sejarah dan Pemugarannya”

– Purnomo, Priyo. Eko : “Kamus Sansekerta – Indonesia”

– Ramachandran, T. N. : “The Golden Age of Hindu-Javanese Art

– RMIT University : “The Hindu-Buddhist Period”

– Scheurleer, P.L : “Divine Bronze: Ancient Indonesian Bronzes from A.D 600 to 1600″

– Thursby, Gene : “The Hindu World”

– Williams, Monier : “Sanskrit – English Dictionary”

Categories: Articles, History Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: