Home > Articles, History > :: Strata Masyarakat Jawa Pre-Hinduism ::

:: Strata Masyarakat Jawa Pre-Hinduism ::

Gambar Relief Candi Prambanan

Agama Hindu diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar tahun 300 M. Peninggalan hindu tertua di Indonesia yang telah diketahui adalah Prasasti Yupa yang di ketemukan di daerah Kutai, Kalimantan dan berangka tahun 400 M. Prasasti tersebut ditulis dalam Bahasa Sansekerta dan menggunakan Huruf Pallawa. Yupa sendiri secara harifah adalah sebuah tugu batu yang berfungsi sebagai tiang untuk menambatkan hewan yang akan dikorbankan pada sebuah prosesi keagamaan.

Gambar Prasasti Yupa


Dari yupa tersebut diketahui bahwa

“…terdapat seorang raja yang memerintah sebuah kerajaan hindu, beliau adalah Mulawarman”

     Namanya tertulis dalam prasasti karena kedermawanannya memberikan sedekah lembu kepada Kaum Brahmana/Pendeta. Penentuan usia dari Yupa tersebut didasarkan pada penggunaan huruf Pallawa itu sendiri. Huruf Pallawa berasal dari India selatan pada masa dinasti Dravidian Pallava yang memerintah antara abad 3 M hingga abad 5 M, yang kemudian dihancurkan oleh kerajaan Chola Mandala pada abad 8 M.

Gambar Transkrip Pallawa - Aksara Daerah


     Sejalan dengan penemuan Prasasti Yupa tersebut, ditemukan pula sebuah Prasasti di daerah Ciaruteun, Jawa Barat yang juga ditulis dalam Bahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa serta terdapat bekas telapak kaki. Meskipun demikian, prasasti tersebut tidak memiliki angka tahun dan diperkirakan berasal dari abad 3 M hingga abad 5 M.

Gambar Prasasti Ciaruteun


Isi dari Prasasti Ciaruteun tersebut adalah

“vikrantasyavanipateh srimatah purnawarmanah tarumanagarendrasya visnor iva padadvayam”

“..telapak kaki yang menyerupai Dewa Wisnu ini adalah milik Yang Mulia Purnawarman, raja di negri Taruma yang gagah perkasa…”

     Mengacu kepada uraian singkat di atas, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi terkait pemahaman awal terhadap esensi tulisan saya berikutnya.

  • Pada tahun 400 M telah terdapat pengaruh budaya India dalam masyarakat jawa yang di tandai dengan penggunaan istilah“Dewa Wisnu” yang merupakan istilah dalam agama Hindu yang berasal dari India, serta penggunaan huruf Pallawa.
  • Digunakannya sistem kasta dalam agama Hindu yang ditunjukkan dengan keberadaan golongan Brahmana/Pendeta yang memiliki kedudukan tersendiri.
  • Telah terbentuk hirarki kekuasaan dalam masyarakat yang digambarkan dengan keberadaan seorang Raja (sebagai pihak yang berkuasa) dan keberadaan Rakyat (sebagai objek dalam lingkup kekuasaan).
  • Telah terbentuk strata sosial dalam masyarakat yang ditunjukkan dengan keberadaan golongan Ningrat (Raja dan keluarga kerajaan), golongan Brahmana/Pendeta (sebagai golongan yang memiliki kedudukan yang dimuliakan) dan golongan rakyat jelata.
  • Telah terdapat keteraturan dalam kehidupan bernegara dan beragama yang ditunjukkan dengan penyelenggaraan prosesi keagamaan (upacara pengorbanan ternak) dan prosesi kenegaraan (peletakkan telapak kaki seorang raja).

Menarik untuk dipahami bahwasanya pola kehidupan bermasyarakat yang berkembang pada waktu itu (strata sosial, hirarki kekuasaan dan keberadaan kasta) tidak terbentuk dalam waktu singkat akan tetapi melewati suatu proses penyatuan kebudayaan yang cukup lama. Penyatuan kebudayaan ini melibatkan antara kebudayaan pribumi dengan kebudayaan luar yang berasal dari India. Proses ini hanya mungkin terjadi dalam waktu singkat apabila nilai-nilai yang terdapat dalam dua kebudayaan tersebut, memiliki persamaan. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa sebelum masuknya pengaruh budaya India, di Pulau Jawa telah terdapat suatu strata dalam masyarakat yang meliputi sosial dan pemerintahan.

Sebelum masuknya pengaruh India, di Pulau Jawa telah terdapat komunitas yang bermatapencaharian sebagai petani. Mereka telah mengenal sistem pertanian sawah dan irigasi dengan padi sebagai tanaman utama. Kelompok komunitas terkecil tersebut tinggal dalam sebuah desa yang disebut wanua. Desa atau wanua tersebut dikepalai oleh Rama dan Dewan Tua sedangkan warga desanya disebut Anak Wanua. Selain itu terdapat pula pejabat lain yang bertugas mengatur penggunaan air dari sungai untuk keperluan irigasi yang di sebut Hulu Air (Huler). Di sepanjang aliran sungai utama hingga anak-anak sungai bisa terdapat lebih dari satu wanua. Agar penggunaan air dapat tetap berjalan dengan tertib, beberapa wanua yang terletak dalam satu daerah aliran sungai membentuk suatu federasi wanua yang kemudian satuan wilayahnya disebut dengan watak. Watak dikepalai oleh seorang kepala daerah yang disebut Raka, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Rakai.

Gambar Hirarki Kekuasaan Masyarakat Jawa Hindu


Pembentukan federasi wanua ini antara lain didorong oleh kesadaran bahwa sebuah wanua tidak mungkin menangani sendiri pembangunan sarana irigasi seperti bendungan yang membutuhkan banyak tenaga kerja dan biaya. Oleh karena itu Raka sebagai pimpinan federasi wanua (watak) diberikan kewenangan untuk mengerahkan tenaga kerja bagi pekerjaan-pekerjaan yang menyangkut kepentingan umum. Agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik, seorang Raka mendapat hak untuk memperoleh sebagian hasil panen rakyatnya. Berawal dari sini, seorang Raka telah beralih peran menjadi seseorang yang memiliki wewenang memerintah. Para Raka ini saling bersaing satu sama lain demi memperbutkan wilayah dan kekuasaan. Dalam menjalankan pemerintahannya, seorang Raka dibantu oleh sejumlah pejabat. Mereka inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan ningrat dan kelas penguasa yang memiliki kedudukan sosial tinggi.


Dengan demikian, strata masyarakat Jawa pada masa Pre-Hinduism terdiri atas dua jenis.

  1. Rakyat desa yang tinggal di wanua-wanua yang dikepalai Rama.
  2. Raka dan pejabat-pejabat pemerintahan yang tinggal di pusat pemerintahan (istana).

Pada saat pengaruh kebudayaan India datang, struktur pemerintahan dan sosial tersebut tergolong telah mapan. Namun perlahan-lahan, sistem ketatanegaraan dan struktur masyarakat Hindu mulai diadopsi ke dalam masyarakat Jawa. Diantaranya adalah sistem kasta dan gelar negarawan “Sri Maharaja” yang di kemudian hari banyak digunakan oleh para Raka. Gelar ini hanya dapat diberikan oleh Pendeta dan dianggap dapat mempertinggi status atau kedudukan seseorang. Pada umumnya meski telah menggunakan gelar Sri Maharaja namun gelar Raka tetap mereka pertahankan. Seorang Raka yang memakai gelar Sri Maharaja adalah mereka yang telah berhasil menguasai Raka-Raka lainnya melalui penaklukan dan sebagainya.


Pada hakekatnya kedudukan seorang Maharaja adalah rawan dan kritis karena dia harus selalu bersaing dengan Raka lainnya untuk menduduki posisi dalam pemerintahan, karenanya kemuliaan dan kehormatannya harus selalu dijaga antara lain melalui karya-karya keagamaan, karya sastra dan kesenian. Oleh karena itulah pendeta, sastrawan/pujangga serta seniman tidak dapat dipisahkan dari lingkungan istana. Hal inilah yang mendorong terbentuknya golongan pendeta, sastrawan dan seniman yang bertahan hingga saat ini.

Sumber :

– Kusumajaya, I Made : “Candi Sewu: Sejarah dan Pemugarannya”

– Ramachandran, T. N. : “The Golden Age of Hindu-Javanese Art

– Scheurleer, P.L : “Divine Bronze: Ancient Indonesian Bronzes from A.D 600 to 1600”

– Supomo, S : “The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives”

– Van Naerssen, FH : “The Economic and Administrative History of Early Indonesia”

Categories: Articles, History Tags: ,
  1. July 27, 2011 at 21:51

    Masyarakat Nusantara amnya dan masyarakat Jawa khasnya tentu sudah mempunyai agama dan sistem kemasyarakatan sebelum masuknya agama Hindu. Apakah agama mereka itu? Kajian saya menunjukkan bahawa di Nusantara ini (sebelum Hindu dan Buddha) telah wujud satu ajaran leluhur yang dinamakan Malaiyana Mulayanam (Ajaran Malai/Malay Mula Ajaran – atau The Root of All Knowledge). Setelah beribu-ribu tahun, ajaran ini berpecah kepada berbagai fahaman. Salah satu fahaman itu berkembang menjadi asas agama Hindu (satu pecahan menjadi agama Buddha). Yang lainnya menjadi asas agama Shinto, agama Mesir Purba, agama Sumeria dan agama Kejawen (agama Jawa). Pada zaman dulu, wilayah Nusantara ini sangat besar, bermula dari Sri Lanka, Myanmar, Thailand, seluruh kepulauan Nusantara sehingga ke Taiwan, bersempadan dengan Japan. Akibat malapetaka dahsyat, seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, super tsunami dan kecairan ais di Kutub Utara dan Kutub Selatan, air laut meningkat dengan mendadak yang menenggelamkan sebahagian wilyah Nusantara (yang kini menjadi Laut China Selatan, Laut Sulu, Laut Jawa dan Teluk Siam. Rekahan perut bumi di wilayah ini sangat dahsyat dan tempat yang paling dalam di laut adalah di perairan Filipina di Mariannas Trench yang dinamakan The Challenger’s Deep.

    Tidak ramai ahli sejarah dan arkeologi yang melakukan kajian tentang bangsa Malai/Malay (sebelum berpecah menjadi suku-suku, seperti Jawa, Melayu, Sunda, Minang, Bugis, Batak, Iban, Kadazandusun, Filipino, dll) yang mendiami bumi Nusantara (South-east Asia) disebabkan kebanyakan artifaks terbenam di dalam laut. Bangsa Malai merupakan pelayar dan pembuat kapal-kapal besar yang hebat. Terdapat sesetengah kelompok yang mengembara ke seluruh dunia. Di daratan, mereka berhijrah ke Baratdaya Negeri China hingga ke Tibet, Nepal dan Utara India. Itu sebab banjaran gunung tertinggi di dunia dinamakan Himalaya (Hi=gunung, Malaya=Malays). Baca blog saya:
    drilyasharunmalaysia.blogspot.com

    • July 28, 2011 at 03:00

      Makasih udah mau mampir… dr Ilyas Harun. Thx atas apresiasinya

      Sebelumnya saya memang pernah membaca suatu artikel mengenai kesamaan kultur pada masyarakat proto-melayu dengan masyarakat arya di india. Disebutkan bahwa esensi ketuhanan dan tradisi pemujaan (worship culture) yang berkembang di masyarakat tersebut memang memiliki kesamaan. Terutama sekali mengenai konsep tri-tunggal yang ada pada masyarakat jawa kuno dengan konsep tiga dunia (sebelum kehidupan, kehidupan dan kematian) pada masyarakat india. Sebelum hindu dan budha menjadi sebuah ajaran keagamaan, konsep tersebut telah ada. Kemudian seiring berkembangnya agama hindu dan budha konsep tersebut seperti mengalami adopsi menjadi kosmologi Mandala (dalam agama budha dan hindu) yang sama2 mewakili periode sebelum kehidupan, kehidupan dan setelah kematian. Jadi memang bisa dikatakan bahwa ajaran tersebut memang berasal dari satu sumber yang sama.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: