Home > History > :: Puisi Kematian Para Samurai ::

:: Puisi Kematian Para Samurai ::

“The Way of the Samurai is found in death.

When it comes to death, there is only the quick choice of death”

Berabad-abad lamanya dunia mengenal golongan Samurai sebagai golongan ksatria/petarung. Keberanian mereka dalam bertarung adalah perwujudan dari filosofi hidup yang mereka anut yakni Bushido (The Way of Warrior).
Bushido adalah sebuah kode etik perilaku yang menggambarkan kesetiaan dan penghargaan tertinggi seorang samurai terhadap CLAN atau kelompoknya. Memuat nilai2 keberanian, kehormatan, disiplin diri serta mengutamakan kepentingan kelompok di atas kepentingan dirinya sendiri.
Kehormatan adalah yang paling utama. Lebih baik mati terhormat daripada menyerah kepada lawan. Inilah yang membuat banyak pemimpin jepang di masa lalu lebih memilih untuk mati di medan perang atau melakukan suatu ritual bunuh diri yang dinamakan “SEPPUKU”.
Ritual ini dilakukan dengan menusukkan sebuah pisau ke bagian kiri perut kemudian memotongnya melintang ke arah kanan perut dan menariknya ke arah rongga dada.
Tindakan ini adalah tergolong tindakan yang sangat terhormat dan dihargai oleh lawan.
Beberapa dari para samurai Jepang yang melakukan ritual seppuku ini antara lain; Takeda Yoshinobu, Takeda Katsuyori, Oda Nobunaga, Azai Nagamasa dll.
Hal yang cukup unik mengenai ritual dan kematian ini sebenarnya adalah pada prosesi yang mereka lakukan sebelum menghadapi kematian itu sendiri.
Banyak dari para samurai tersebut yang telah “mempersiapkan” kematian mereka dengan menulis puisi atau kata2 terakhir yang biasanya ditujukan kepada keluarga atau lawan mereka.
Berikut ini adalah Puisi Kematian yang ditulis oleh para Daimyo dan Samurai jepang sebelum mereka menghadapi kematiannya.

Hôjô Ujimasa (Daimyo Clan Hôjô)
(1538-1590)
Autumn wind of eve,
Blow away the clouds that mass
over the moon’s pure light
and the mists that cloud our mind,
do thou sweep away as well.
Now we disappear,
well, what must we think of it?
From the sky we came.
Now we may go back again.
That’s at least one point of view.

Takemata Hideshige
Shall Ashura
subdue a man like me?
I shall be born again
and then I’ll cut the head
off Katsuie…

Minamoto Yorimasa (Daimyo Clan Minamoto)
(1104-1180)
Like a rotten log
half buried in the ground
my life, which has not flowered
comes to this sad end.

Tokugawa Ieyasu (Shogun)
(1542-1616)
Whether one passes on or remains is all the same.
That you can take no one with you is the only difference.
Ah, how pleasant!
Two awakenings and one sleep.
This dream of a fleeing world!
The roseate hues of early dawn!

Ota Dokan
(1432-1486)
Had I not known
that I was dead already
I would have mourned
my loss of life.

Toyotomi Hideyoshi
(1536-1598)
My life came like dew
disappears like dew.
All of Naniwa,
is dream after dream.

Uesugi Kenshin (Daimyo Clan Uesugi)
(1530-1578)
Even a life-long prosperity,
is but one cup of sake
A life of forty-nine years
is passed in a dream
I know not what life is, nor death.
Year in year out-all but a dream.
Both Heaven and Hell are left behind
I stand in the moonlit dawn,
Free from clouds of attachment.

Taira no Tadanori
(1144-1184)
In Shiga capital, rippling waves have turned wild
but mountain cherries remain as of old.

Hosokawa Fujitaka
(1600)
The world now unchanged from ancient times
leaves that are words retain seeds in the hear

Categories: History Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: