Home > History > :: Ancient Road Between SYAILENDRA and SANJAYA ::

:: Ancient Road Between SYAILENDRA and SANJAYA ::

Ancient Road

Berdasarkan pada bukti peninggalan bersejarah yang telah ditemukan, dapat diketahui bahwa peradaban tertua di Indonesia adalah peradaban bercorak Hindu dan Budha (*simak tulisan saya mengenai Strata masyarakat Jawa Pre-Hinduism). Kedua corak peradaban ini pada awalnya berasal dari wilayah India dan dibawa masuk ke wilayah Indonesia sekitar abad 3 Masehi, melalui perantara para pedagang (merchant). Selanjutnya peradaban ini mengalami akulturasi dan penyatuan yang sangat baik dengan kebudayaan pribumi. Tingkat penerimaan yang baik dari masyarakat dan ditunjang dengan keberlanjutan kegiatan dagang yang telah berlangsung lama, menyebabkan pengaruh kedua kebudayaan ini berkembang sangat pesat di wilayah Indonesia terutama di pulau Jawa.

Pada tahun-tahun awal perkembangannya (abad 7 Masehi), terdapat 2 kerajaan bercorak Hindu dan Budha yang memiliki pengaruh besar di Pulau Jawa yakni Kerajaan SYAILENDRA yang bercorak Budha dan Kerajaan SANJAYA yang bercorak Hindu. Kedua kerajaan ini sama-sama memiliki pusat pemerintahan di wilayah Jawa bagian tengah. Demi memudahkan dalam kajian arkeologi dan kepurbakalaan, kedua kerajaan ini kemudian diberi nama Kerajaan Mataram Kuno (Ancient Mataram).

** Koreksi dari tulisan sebelumnya ** (thx to Sdr Galy Hardyta )

Mengenai historical timeline dan keberadaan dua wangsa/kerajaan tersebut, beberapa ahli memang masih memperdebatkan. Tapi bila mengacu kepada Prasasti Canggal yang ditemukan di daerah Salam, Magelang (berangka tahun 654 Saka atau 732 M) yang bersifat Hindu-Siwa dan merupakan prasasti berangka tahun tertua di Jawa, maka dapat dikatakan bahwa Wangsa Sanjaya-lah yang lebih dahulu memerintah di Jawa Tengah. Kedatangan wangsa Syailendra sendiri besar kemungkinan terjadi pada waktu dilakukannya ekspansi oleh Kerajaan Sriwijaya atas tanah Jawa sekitar abad akhir 7 M (tertuang dalam Prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 M).

Peta geopolitik kedua dinasti itu sendiri dapat dijelaskan melalui sejumlah penemuan prasasti dan bangunan candi serta situs-situs purbakala di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Saya mencoba menuliskannya sebagai berikut.

  1. Wilayah pemerintahan wangsa Sanjaya mula-mula berada pada wilayah Jawa Tengah bagian utara (meliputi wilayah dataran tinggi Dieng dan pegunungan Ungaran), kemudian karena suatu sebab, mengalami perpindahan ke wilayah Jawa Tengah bagian timur (dataran Prambanan).
  2. Wilayah pemerintahan wangsa Syailendra berada di daerah dataran Kedu, Magelang yang ditandai dengan peninggalannya berupa Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon.
  3. Keberadaan Dinasti Sanjaya di wilayah Jawa Tengah bagian timur ini dapat dijelaskan oleh Prasasti Kalasan (berangka tahun 700 Saka atau 778 M) yang menyebut nama Rakai Panangkaran (keturunan Raja Sanjaya).
  4. Pemberian tanah hibah di Desa Kalasan dari Rakai Panangkaran (Keturunan Sanjaya) kepada wangsa Syailendra.
  5. Pada hakekatnya sebuah “tanah hibah” milik keluarga Sanjaya pastilah berada di dalam wilayah kekuasannya.
  6. Masa penyatuan 2 keluarga/wangsa terjadi pada masa pemerintahan Rakai Pikatan yang menikah dengan Pramodhawardhani, Putri Samaratungga dari Wangsa Syailendra.
  7. Selanjutnya peta geoplolitik di wilayah Jawa Tengah menjadi satu kesatuan di bawah pimpinan Wangsa Sanjaya.

Diantara sejumlah bangunan dan situs bersejarah peninggalan Hindu-Budha yang telah diketemukan kembali (spesifik berupa Candi), hampir dapat dipastikan bahwa 40%nya berada di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah (±40 buah). Adapun bangunan-bangunan yang merupakan peninggalan dan manifestasi dari Kerajaan Syailendra adalah Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Kalasan dan Candi Borobudur sebagai masterpiece. Sedangkan yang termasuk peninggalan dan manifestasi dari Kerajaan Sanjaya adalah Candi Sambisari, Candi Dieng, Candi GedongSanga dan Candi Prambanan sebagai masterpiece.

Ancient Fortress

Mengingat jumlahnya yang begitu banyak, maka sangatlah mungkin mengatakan bahwa kedua kerajaan besar tadi memiliki pengaruh langsung terhadap keberadaan candi-candi tersebut. Saya mengatakan “kedua kerajaan” adalah dalam pengertian, “bangunan-bangunan tersebut merupakan semacam Joint Venture antara keduanya”. Fakta ini berangkat dari penemuan sejumlah candi berlainan corak (Hindu-Budha), yang terletak berdampingan di dalam satu kawasan (Candi SewuPrambanan). Hal ini menandakan telah terdapat suatu harmoni antara penganut agama Budha dengan penganut agama Hindu di wilayah tersebut. Bukti sejarah yang tertuang dalam Prasasti Wantil, Ratu Boko (berangka tahun 856 Masehi) menyebutkan….

“….He was Çaiwa in contrast to the queen, the spouse of the hero; exactly a year was the time of the….?……. stones heaped up by hundreds for his refuge, a killer as fast as the wind ….?…. Bālaputra”

Prasasti tersebut memiliki angka tahun 856 M dan besar kemungkinan di buat pada masa pemerintahan Rakai Pikatan Dyah Saladu (847 -855 M). Kata-kata yang digarisbawahi di atas menyiratkan bahwasanya sang raja (Rakai Pikatan) adalah seorang penganut agama Hindu aliran Siwa yang memiliki seorang ratu yang obviously bukan penganut agama Hindu (in contrast). Karena hanya ada 2 aliran kepercayaan yang umum diterima saat itu (Hindu dan Budha), maka dapat disimpulkan bahwa Ratu tersebut adalah seorang penganut agama Budha. Inilah yang kemudian memunculkan toleransi beragama yang tinggi di antara masyarakatnya mengingat sang Raja adalah penganut Hindu sementara Sang Ratu adalah penganut Buddha. Toleransi inilah yang kemudian berkembang menjadi hubungan dagang dan hubungan bilateral antara dua kerajaan (Syailendra dan Sanjaya).

Atas dasar hal itulah, esensi mengenai tulisan ini bermula. Penulis berpendapat bahwa….

  1. Pembinaan hubungan antara 2 kerajaan hanya mungkin terjadi apabila terdapat suatu AKSES UTAMA yang menghubungkan antara kedua wilayah kerajaan tersebut. Akses utama yang dimaksud dalam hal ini adalah secara fisik berupa JALAN RAYA.
  2. Keberadaan JALAN RAYA tersebut memiliki kaitan erat dengan tinjauan geografis keberadaan candi-candi tersebut yang bersifat sporadis. Bangunan (Candi) yang dibangun oleh pemerintah (Kerajaan), dengan sendirinya pastilah memiliki AKSES dari dan menuju pusat pemerintahan.

Lebih lanjut, apabila kita berkiblat kepada masterpiece dari masing-masing kerajaan tersebut, Borobudur (Syailendra) dan Prambanan (Sanjaya), maka inti dari penulisan ini sebenarnya adalah mengenai “Bagaimana mengetahui secara pasti keberadaan Ancient Road yang menghubungkan antara keduanya?”

Dengan bantuan Google Maps, penulis berusaha memproyeksikan keberadaan situs-situs dan peninggalan purbakala pada masa Hindu-Budha ke dalam sebuah peta dan mengimplementasikannya.

Penulis cukup bersyukur dapat menemukan sumber yang mampu menyediakan referensi sangat akurat mengenai sejumlah situs-situs peninggalan Hindu-Budha di Jawa Tengah dan Yogyakarta berikut http://ancientmataram.wordpress.com/ , http://tarabuwana.blogspot.com , http://nyariwatu.blogspot.com dan http://candi.pnri.go.id

Secara garis besar, tinjauan dimulai dari keberadaan Candi Prambanan dan situs-situs lain di kawasan kompleks Candi Prambanan untuk kemudian dilakukan pendataan dan penempatan titik (marking) pada Google Maps. Tinjauan dilanjutkan dengan pendataan dan marking kembali terhadap lokasi candi dan situs-situs Hindu-Budha lainnya yang berada di sebelah Barat/Barat Laut/Utara dari Candi Prambanan. Demikian seterusnya hingga tinjauan berakhir di kompleks Candi Borobudur di wilayah Muntilan.

TINJAUAN PERTAMA

Situs-situs Hindu-Budha di kawasan Candi Prambanan

Candi PRAMBANAN

Candi Prambanan merupakan candi Hindu yang terbesar di Indonesia. Terletak kurang lebih 17 km ke arah timur dari Yogyakarta, tepatnya di Desa Prambanan Kecamatan Bokoharjo. Lebih lengkapnya….

Candi LUMBUNG

Candi Lumbung merupakan candi Budha yang terletak 300 meter di utara Candi Prambanan dan masih berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan. Lebih lengkapnya….

Candi BUBRAH

Candi Bubrah adalah candi Buddha yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di antara candi utama Roro Jonggrang dan candi Sewu. Dinamakan Bubrah karena memang keadaannya rusak (bubrah dalam bahasa Jawa). Lebih lengkapnya….

Candi SEWU

Candi Sewu adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan ratus meter di sebelah utara candi Prambanan. Candi Sewu merupakan kompleks yang terdiri atas 249 buah bangunan candi. Lebih lengkapnya….

Candi ASU

Candi ASU disebut juga sebagai Candi GANA. Candi Gana adalah candi Budha yang terletak di sebelah timur candi Sewu dan merupakan salah satu dari 4 buah candi yg mengelilingi Candi Sewu. Lebih lengkapnya….

Candi PLAOSAN

Candi Plaosan adalah candi Budha yang terletak 1,5 km ke arah timur dari Candi Sewu. Merupakan sebuah kompleks bangunan kuno yang terbagi menjadi dua, yaitu kompleks Candi Plaosan Lor (lor dalam bahasa Jawa berarti utara) dan kompleks Candi Plaosan Kidul (kidul dalam bahasa Jawa berarti selatan). Lebih lengkapnya….

Situs Candi KULON

Situs Candi Kulon meliputi 2 wilayah yaitu Desa Ngablak dan Desa Pulorejo. Terletak di sebelah Barat dari Candi Sewu dan merupakan salah satu dari 4 buah candi yg mengelilingi Candi Sewu. Lebih lengkap mengenai Situs Ngablak dan Situs Pulorejo

TINJAUAN KEDUA

Situs-situs Hindu-Budha di sebelah Barat Prambanan

Candi KEDULAN

Candi Kedulan adalah candi Hindu yang terletak di Desa Tirtomartani, sekitar 2,5 km dari Candi Sambisari. Candi ini sedang dalam proses penggalian dan rekonstruksi, karena pada saat ditemukan, reruntuhan candi dalam keadaan tertimbun tanah vulkanik. Lebih lengkapnya….

Candi SAMBISARI

Candi Sambisari adalah candi Hindu (Siwa) yang terletak di Dusun Sambisari, Kalasan. Candi ditemukan dalam kondisi terkubur 6 meter di bawah permukaan tanah. Mengalami pemugaran dan selesai pada tahun 1987. Lebih lengkapnya….

Candi SARI

Candi Sari adalah bangunan yang diperuntukkan bagi para pendeta Budha. Terletak sekitar 5 km arah barat dari kompleks Candi Prambanan. Lebih lengkapnya….

Candi PONDOK

Candi Pondok berada di Dusun Pondok, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Berdasarkan data inventaris BCB tak bergerak Kabupeten Sleman, Candi Pondok adalah temuan dua buah yoni dari abad ke 9 M. Lebih lengkapnya…

Candi KALASAN

Candi Kalasan merupakan candi bercorak Budha. Terletak sekitar 3 km arah barat daya dari Candi Prambanan. Pada kompleks candi ini terdapat sejumlah 52 stupa yang mengelilingi bangunan induk. Lebih lengkapnya….

Candi GEBANG

Candi Gebang adalah candi Hindu yang terletak di Dusun Gebang, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Merupakan bangunan candi yang berdiri tunggal. Ditemukan pertama kali dalam kondisi runtuh total. Lebih lengkapnya….

Candi PALGADING

Candi Palgading adalah candi Budha yang terletak di Dusun Palgading, Ngaglik, Sleman, sekitar 15 km arah barat dari Candi Prambanan. Bangunan candi ini masih dalam taraf penggalian karena sebagian besar bangunan induknya masih terkubur. Lebih lengkapnya….

TINJAUAN KETIGA

Situs-situs Hindu-Budha di sekitar lereng Merapi

Candi MORANGAN

Candi Morangan merupakan komplek candi Hindu yang terletak di Dusun Morangan, Sindumartani, Ngemplak, Sleman. Candi ini terletak di lereng gunung Merapi dan merupakan candi yang menempati posisi paling utara dari keseluruhan kompleks candi yang ada di wilayah Yogyakarta. Lebih lengkapnya….

Kompleks Candi UII

Candi ini dinamakan demikian karena terletak di lingkungan kampus Universitas Islam Indonesia (UII). Sebutan lainnya adalah Candi Kimpulan dan Candi Pustakasala. Masih dalam taraf penggalian karena sebagian besar kondisinya masih terkubur tanah vulkanik. Candi ini diduga memiliki corak Hindu karena telah ditemukan Arca Ganesha dan Yoni. Lebih lengkapnya….

Situs Hindu-Budha di lereng Merapi

Situs NGEPAS, Situs SURUH, Situs JETIS JOGOPATEN dan Situs KARANGTANJUNG adalah sejumlah situs peniggalan Hindu-Budha yang terletak di lereng Gunung Merapi. Di sejumlah situs tersebut telah ditemukan beberapa benda cagar budaya diantaranya arca ganesha, arca wisnu, arca nandi, fragment candi dari batu andesit dengan ukiran motif kinara-kinari serta Antefik berbentuk segitiga yang sering ditemukan pada Candi Pewara.

TINJAUAN KEEMPAT

Lokasi situs-situs peninggalan Hindu-Budha yang tersebar antara Borobudur dan Prambanan

Tinjauan yang terakhir ini adalah mengenai Kompleks Candi yang terletak di kawasan Candi Borobudur meliputi Candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut. Ketiganya dianggap sebagai manifestasi dari Kerajaan Syailendra penganut agama Budha dan secara geografis terletak hampir pada satu garis lurus.

Terdapat dua lokasi yang tidak memiliki keterangan dimana diduga merupakan tempat situs-situs peninggalan Hindu-Budha di daerah Muntilan dan Salam. Fakta ini berangkat dari sebuah jurnal penelitian pada masa Hindia-Belanda “Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie”. Saat kemudian dilakukan penggalian oleh arkeolog, ditemukan sebaran situs terserak hingga 9 kecamatan– Muntilan, Dukun, Mungkid, Sawangan, Salam, Srumbung, Borobudur, Tempuran, dan Salaman–seperti mengepung Candi Borobudur dengan radius hingga 15 kilometer dari poros Candi Borobudur.

Kemudian dengan menggabungkan seluruh tinjauan di atas dan mengintegrasikan topografi wilayah dengan kontur tanah, maka akan diperoleh pencitraan sebagai berikut;

Topografi dan kontur wilayah persebaran situs-situs Hindu-Budha

Selanjutnya dilakukan interpretasi terhadap gambar di atas berdasarkan fakta kontekstual dimana keberadaan bangunan dan situs-situs tersebut tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan AKSES UTAMA dari dan menuju pusat pemerintahan. Dengan kata lain, keseluruhan bangunan tersebut pasti berada dalam lingkup yang dekat dengan lalu-lintas pemerintahan dua kerajaan (Syailendra dan Sanjaya). Hasilnya adalah sebagai berikut

Ancient Road between Syailendra and Sanjaya

Categories: History Tags:
  1. August 2, 2011 at 08:47

    Hipotesa yang sangat menarik.. Dan ini patut untuk didalami lebih lanjut.. :D

    • August 5, 2011 at 05:31

      Makasih udah mampir mas…. =D, Blognya keren…!!! Tempat belajar dan mengenal kebudayaan bangsa sendiri….

  2. August 5, 2011 at 03:06

    jogja memang kaya akan peninggalan sejarah bangsa yang perlu dilindungi dan di kunjungi.. sepertiny ga cukup memetakan semuanya…

    • August 5, 2011 at 05:28

      Bener banget mas… mengingat masih banyak peninggalan sejarah yang belum diexplore dan dikelola dengan sepantasnya. Makasih udah menyempatkan mampir mas Nikko…=) Salam Nyari watu…

  3. September 6, 2011 at 22:08

    Analisis yang menarik… beberapa peninggalan memang banyak ditemukan pada garis-garis tersebut… saya pernah dengar, di daerah Salaman (Kab. Magelang) banyak sekali ditemukan batu-batu candi, akan tetapi sudah banyak yang hilang dicuri.

    Oh iya, ada satu lagi yang menarik. Menurut penanggung jawab museum Prambanan, kerajaan Mataram Kuno diguncang oleh bencana alam (Merapi). Selanjutnya, terjadi hijrah besar-besaran ke Jawa Timur.

    Nah, perjalanan dari Yogyakarta menuju daerah Trowulan tentu melewati rute yang panjang. Salah satunya melewati daerah yang kini dikenal dengan Karanganyar. Candi Sukuh, bentuknya kelewat unik dibanding candi-candi dengan langgam Jawa Tengah dan Jawa Timur. Adakah yang sudah diselidiki mengenai hal ini?

    • September 8, 2011 at 22:14

      Makasih udah berkenan mampir mas Ivan….=).
      Mengenai banyaknya situs peninggalan hindu-buddha di daerah Salaman, Magelang. Itu memang benar adanya. Pendataan awal pernah dilakukan pada masa kolonial (1911-1915) dan hasilnya dibukukan dalam “Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie”.

      Terdapat banyak situs bebatuan candi yang tersebar di daerah tersebut. Bila dikaitkan dengan studi abad modern (erupsi 2010), aktifitas Gunung Merapi memang memiliki pengaruh terhadap bangunan2 tersebut sehingga sangat mungkin memicu terjadinya exodus besar2an ke wilayah Jawa Timur pada awal abad ke 11.

      Mengenai kekhasan bentuk pada arsitektural Candi Sukuh dan Candi Cetho yang lebih identik dengan arsitektural gaya Amerika Latin, sedikit banyak telah diulas dlm buku berjudul “Peradaban Atlantis Nusantara” karya Ahmad Y Samantho. (**buku yang sangat recommended….)
      Semoga membantu..=)

      • September 8, 2011 at 22:27

        Memang benar, identik sekali dengan bangunan piramid terlebih piramid suku Maya. Tetapi, siapa ya yang bawa pengaruhnya ke sini? Sepertinya saya perlu baca bukunya Bapak Ahmad yang satu ini. Terima kasih informasinya.

      • September 16, 2011 at 14:47

        Ada ralat sedikit, candi Pondok itu lokasinya bukan di sisi barat daya Candi Sari… (dusun Candisari, desa Tirtomartani, kec. Kalasan, kab. Sleman, DIY), melainkan di sisi timur laut Candi Kedulan. Lebih tepatnya di dusun Pondok, desa Selomartani, kec. Kalasan, kab. Sleman, DIY. Semoga menjadi periksa.

    • June 7, 2012 at 16:27

      permisi, saya ikut nimbrung ya.. :D bencana merapi memang diperkirakan menjadi penyebab terjadinya eksodus raja jawa tengah ke jawa timur.. tapi itu tidak langsung ke arah trowulan, melainkan ke daerah jombang, jolotundo, madiun, kemudian kediri. kalau sepengetahuan saya hingga masa kediri rajanya masih dari dinasti isyana(penerus tampuk pemerintahan mataram kuno), baru setelah singosari timbul wangsa baru yaitu rajasa. nah rajasa inilah yang akhirnya mendirikan majapahit dan berpusat di trowulan (meskipun realitanya berpindah-pindah). mengenai candi sukuh dan cetho, itu diperkirakan dari masa akhir majapahit, dan pengerjaannya bukan dilakukan oleh pembuat candi, sehingga arsitekturnya beda.

      • June 21, 2012 at 14:05

        Tapi aneh juga ya, kenapa hijrahnya ke jawa timur, bukan ke jawa barat? Atau jgn2, bukan karena bencana, tp entah konflik atau sekedar ekspansi. Sejauh yg saya yakini, sistem pemerintahan hindu budha dulu adl desentralisasi, jd memungkinkan suatu dinasti punya bnyk sub kerajaan. Sayangnya, setiap ganti pemimpin malah bentrok, bahkan saling menghilangkan.

        Mungkin jg watak masyarakat jatim identik dgn jateng, shg ekspansi kerajaan lbh berhasil ke timur.

  4. September 17, 2011 at 13:51

    Oke mas, makasih buat koreksinya…. segera di perbaiki =)

  5. September 21, 2011 at 14:21

    setelah saya baca2 buku karangan Dr Soekmono ada fakta yang sedikit berbeda dengan tulisan mas yoedana. Memang borobudur dimagelang yang notabene berada diutara jogja merupakan manivestasi dari saylendrawangsa, namun kenyataanya saylendra menguasai jawa tengah selatan dan sanjayawangsa di jawa tengah utara (sekitar dieng). jadi bisa dikatakan dari borobudur ke selatan adalah kekuasaan saylendrawangsa.
    Memang benar bahwa prambanan adalah manivestasi sanjayawangsa, namun monumen tersebut didirikan setelah rakai pikatan berhasil menghapus kekuasaan sailendra di jawa. tentunya hal ini terjadi jauh setelah didirikannya kamulan (borobudur kuno dari jaman samaratungga). Kamulan sendiri direnovasi oleh pramodawardani istri rakai pikatan. Jadi masukan saya agar tulisan ini diberi tinjauan dari sudut pandang waktu.

    • September 22, 2011 at 06:21

      Mas, barusan udah ak coba koreksi sedikit berbekal literatur2 yang ada…..
      Tapi kliatanny msh kurang “sreg” terutama mslh aliran kepercayaan antara Syailendra dan Sanjaya. Asumsi selama ini bahwa Syailendra penganut Buddha dan Sanjaya penganut Hindu.

      Dr.Soekmono (dalam bukunya “Chandi Borobudur : A Monument of Mankind”) menjelaskan bahwa peta geopolitik Sanjaya di Jawa Tengah bagian utara dan Syailendra di Jawa Tengah bagian selatan. Tapi mengacu pada Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Kab.Batang (Jawa Tengah bag Utara) jelas-jelas menyebut nama “Syailendra”. Padahal sperti diketahui prasasti itu beraliran Hindu-Siwa dan bukan beraliran Buddha. Sementara itu Prasasti Canggal yang ditemukan di Kec.Salam, Magelang menjelaskan mengenai silsilah “Sanjaya”, padahal wilayah tersebut secara geopolitik termasuk wilayah kekuasaan wangsa Syailendra.

      Literatur lain yg coba saya jadikan rujukan adalah “The Homeland of Syailendra Family” yang juga dijadikan referensi di website Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Literatur tersebut cukup kontradiktif karena menyatakan bahwa Syailendra adalah leluhur dari Sanjaya. Berarti bahwa Syailendra dan Sanjaya menganut aliran kepercayaan yang sama (kecuali jika terjadi semacam Religion Shifting di kalangan kerajaan). Apabila memang demikian adanya, maka hal yang bisa menjelaskan mengenai keberadaan bangunan2 berbeda corak (Hindu-Budha) adalah bahwa kedua wangsa tersebut menganut aliran kepercayaan SIWA-Buddhism (Hindu-Dharma).

      Makasih buat koreksinya, mas….=)

      • June 7, 2012 at 16:20

        wah mateb mas studi literaturnya.. :D memang semua ini masih kemungkinan jadi wajar kalau banyak pendapat.. terimakasih lho sudah menanggapi koreksi saya, padahal itu dulu saya cuma asal ngoceh.. hehehe.. maju terus ya.. salut buat panjenengan yang sudah kritis terhadap hubungan antara Syailendra dan Sanjaya

  1. August 6, 2011 at 05:54

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: