:: Prasasti Canggal ::

September 16, 2011 5 comments

Prasasti Canggal

Prasasti Canggal ditemukan di kompleks Candi Gunung Wukir, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Berita mengenai penemuan ini pertama kali di publikasikan pada tanggal 10 Maret 1884, dalam sebuah sesi pertemuan anggota kelompok ilmiah Royal Academy di Amsterdam, Belanda. Prasasti ini adalah merupakan salah satu peninggalan terpenting dari kerajaan Mataram Kuno di wilayah Jawa Tengah. Pada prasasti ini ditemukan angka tahun pembuatan yang telah memungkinkan para arkeolog untuk dapat memperkirakan periodisasi berdirinya kerajaan tersebut di Pulau Jawa. Angka tahun pendirian pada prasasti tersebut termuat dalam sebuah Candrasengkala yang berbunyi “Sruti Indriya Rasa” (Sruti = 4, Indriya = 5, Rasa = 6) yang menyatakan tahun 654 Saka atau 732 Masehi. Prasasti ini dianggap sebagai prasasti “berangka tahun” yang tertua di Pulau Jawa.

Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallava  dan dalam Bahasa Sanskrit  dialek awal yang menurut para ahli dirasa “kurang elegan” bila digunakan pada dokumen kerajaan. Dalam sebuah studi komparatif mengenai epigrafi, disebutkan bahwa baik bahasa, aksara maupun isi yang terdapat pada Prasasti Canggal, secara umum memiliki kemiripan dengan Prasasti Han Chei yang terdapat di Kamboja dan berasal dari pertengahan abad 7 M. Fakta ini menguatkan pendapat para ahli bahwa kedua prasasti itu memang berasal dari periode yang sama.

Read more…

Categories: Articles, History Tags: ,

:: Prasasti Sojomerto ::

September 15, 2011 2 comments

Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto termasuk salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno di wilayah Jawa Tengah. Prasasti ini ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Tulisan pada prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu andesit berukuran panjang 43 cm, tebal 7 cm dan tinggi 78 cm menggunakan aksara Jawa Kuno (KAWI) dan ditulis dalam dialek Bahasa Melayu Kuno. Berdasarkan penggunaan hurufnya, prasasti ini diperkirakan berasal dari abad VII  Masehi. Aksara Jawa Kuno (KAWI) yang digunakan pada prasasti ini merupakan salah satu pengembangan dari aksara Pallava Grantha yang merupakan aksara induk bagi sejumlah dialek bahasa di kawasan Asia Tenggara (Baybayin, Mon, Champa, Khmer, Thai, Java, Bali, Batak, Sunda dll)

Rumpun Bahasa Kawi

Read more…

Categories: Articles, History Tags: ,

:: Prasasti TUK MAS ::

September 11, 2011 4 comments

Prasasti Tuk Mas

Prasasti TUK MAS merupakan salah satu prasasti peninggalan masa kerajaan Mataram Kuno di wilayah Jawa Tengah. Prasasti ini ditemukan di daerah kaki Gunung Merbabu tepatnya di Dusun Grabag, Desa Dak Awu, Kabupaten Magelang, terpahat pada sebuah batu yang berada di dekat sumber mata air “Tuk Mas” yang berarti “mata air emas”. Ditulis dalam bahasa Sanskrit dan menggunakan aksara Pallava-Grantha yang diperkirakan berasal dari wilayah India Selatan. Meskipun tidak memiliki angka tahun pembuatan, namun prasasti ini dianggap sebagai peninggalan tertua dari Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Hal ini didasarkan pada penggunaan aksara Pallava-Grantha yang berkembang antara tahun 500-700 Masehi.

Huruf Pallava Grantha Vokal

Huruf Pallava Grantha Konsonant

Angka Pallava Grantha

  Read more…

Categories: Articles, History Tags: ,

:: Relief Hewan pada Candi Prambanan ::

September 9, 2011 Leave a comment

Simbolisasi karakter pada beberapa relief candi di Indonesia boleh dikatakan adalah sebuah kewajaran.  Setiap perupaan memiliki makna dan peran masing-masing yang menerangkan mengenai suatu peristiwa, catatan sejarah maupun konsep pemujaan. Bagaimana seandainya simbolisasi dari karakter tersebut adalah berupa hewan? Dalam sebuah kunjungan ke Candi Prambanan baru-baru ini, penulis berusaha memberikan informasi mengenai keberadaan sejumlah relief hewan pada Masterpiece kerajaan Sanjaya tersebut.

Relief ini ditemukan pada salah satu candi induk (Brahma) yang berada dalam kompleks percandian Loro Jonggrang di Prambanan.

Relief Kucing

Read more…

Categories: Articles, History Tags: ,

:: Mandala, Interpretasi Pondasi Sebuah Candi ::

August 11, 2011 1 comment

Mandala, Tantric Symbol of Integration

Sebuah old-fashioned way yang dulu sering saya lakukan manakala sedang di rundung kegalauan adalah menulis. Tulisan kali ini pun lahir sebagai bagian dari usaha saya dalam menghibur diri selepas kepergian seseorang yang begitu saya sayangi. Seseorang yang mungkin lebih menyerupai ibu kandung bagi saya sendiri, beliau yang juga telah mengajarkan banyak hal dan memberikan teladan dalam berperilaku serta bertutur kata. Semoga semua yang telah engkau berikan bisa menjadi pondasi yang kokoh bagiku dalam menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. Selamat Jalan Mami Kantin SMA 3 Yogyakarta. Terima Kasih.

Mandala awalnya adalah merupakan Simbol Kesatuan yang umum digunakan oleh kaum/kalangan Tantric di India. Mengacu kepada sejarah dan filosofi Buddha pada awal perkembangannya, terdapat 3 aliran yang umum diterima di masyarakat yakni Hinayana, Mahayana dan Vajrayana. Kaum Tantric sendiri menunjuk kepada golongan penganut salah satu dari ketiga aliran suci dalam agama Buddha tersebut yakni Vajrayana atau lebih dikenal dengan nama Tantrayana. Aliran ini tergolong unik karena mereka juga memuja Dewa-Dewa agama Hindu di dalam sistem Pantheon mereka.  Tantras yang juga merupakan kitab suci aliran Tantrayana ini kemudian berkembang menjadi suatu istilah yang mewakili golongan tersebut yakni Tantric.

Mandala dalam bahasa Sanskrit  (Mandhala) adalah berarti Lingkaran atau wilayah. Deskripsi lebih lanjut, Mandala adalah bentuk simbolik dari suatu lingkaran. Simbolik dalam pengertian bahwa bentuk tersebut tidaklah sepenuhnya menyerupai lingkaran akan tetapi hanyalah berupa 5 titik dengan kedudukan yang berbeda.

Bentuk Dasar Mandala

Titik pusat (center) berada di tengah sedangkan keempat titik lainnya berada pada masing masing 4 titik sudutnya (square). Kelima titik tersebut dianggap mewakili 5 forms of Buddhas yang dapat dibedakan melalui gesture pada kedua tangannya.

Read more…

:: Kosmologi Candi Hindu di Indonesia ::

August 6, 2011 1 comment

Candi Hindu

Indonesia adalah negeri yang kaya akan peninggalan bersejarah, termasuk di antaranya adalah bangunan-bangunan bercorak Hindu dan Budha. Keberadaan bangunan-bangunan itu sendiri tentunya tidak bisa dipisahkan dari kehadiran sejumlah Kerjaan Besar yang pernah memerintah di bumi nusantara ini.

Sebutlah Kerajaan Syailendra dan Kerajaan Sanjaya di Pulau Jawa, dua kerajaan dengan spiritual background yang berbeda yang kemudian mendirikan mahakarya seni berupa Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Dua buah bangunan dengan arsitektur masa lampau yang kemegahannya tidak bisa tertandingi bahkan oleh kemajuan teknologi dewasa ini. Bangunan yang menjadikan Menara Kembar Petronas milik Malingsia itu seolah hanya menjadi UPIL di hidung Godzilla (**Sentimen Kenegaraan? memang demikian adanya. Andai boleh meneruskan, ada banyak hal lain yang bisa saya cacat dari Negara Bau Kencur yang hobinya maling kebudayaan itu) Tapi, marilah kita mengesampingkan nasionalisme kita terlebih dahulu dan kembali membuka buku harian nenek moyang.

Borobudur dan Prambanan sebenarnya bukanlah merupakan satu-satunya “bebatuan” yang diwariskan oleh para leluhur kepada kita. Faktanya, ada lebih dari 60 bangunan lain yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia dan secara spesifik, terdapat 30 buah bangunan percandian tersebar di wilayah pulau Jawa bagian tengah (*simak tulisan saya mengenai beberapa candi di wilayah Jawa Tengah)

“That Ancient Archipelago of Indonesia, breeds very vigorous creatures”

Kapan dan bagaimanakah bangunan itu didirikan? Terlebih dalam kuantitas massive dan geografis yang saling berjauhan. Untuk dan atas dasar apa pendirian bangunan-bangunan tersebut?
Dalam sejarah dan tradisi mengenai Hindu Worship, sebuah Candi adalah merupakan suatu simbol. Demikian pula halnya dengan setiap bagian dari strukturnya mewakili simbol tertentu dan masing-masing tidak mungkin untuk berdiri sendiri. Konteks kosmologi candi Hindu yang dimaksud di sini adalah mengenai keterkaitan bangunan-bangunan tersebut terhadap kesatuan hubungan antara Manusia , Sang Pencipta dan Alam Semesta.

Read more…

Categories: History Tags: ,

:: Ancient Road Between SYAILENDRA and SANJAYA ::

July 31, 2011 15 comments

Ancient Road

Berdasarkan pada bukti peninggalan bersejarah yang telah ditemukan, dapat diketahui bahwa peradaban tertua di Indonesia adalah peradaban bercorak Hindu dan Budha (*simak tulisan saya mengenai Strata masyarakat Jawa Pre-Hinduism). Kedua corak peradaban ini pada awalnya berasal dari wilayah India dan dibawa masuk ke wilayah Indonesia sekitar abad 3 Masehi, melalui perantara para pedagang (merchant). Selanjutnya peradaban ini mengalami akulturasi dan penyatuan yang sangat baik dengan kebudayaan pribumi. Tingkat penerimaan yang baik dari masyarakat dan ditunjang dengan keberlanjutan kegiatan dagang yang telah berlangsung lama, menyebabkan pengaruh kedua kebudayaan ini berkembang sangat pesat di wilayah Indonesia terutama di pulau Jawa.

Pada tahun-tahun awal perkembangannya (abad 7 Masehi), terdapat 2 kerajaan bercorak Hindu dan Budha yang memiliki pengaruh besar di Pulau Jawa yakni Kerajaan SYAILENDRA yang bercorak Budha dan Kerajaan SANJAYA yang bercorak Hindu. Kedua kerajaan ini sama-sama memiliki pusat pemerintahan di wilayah Jawa bagian tengah. Demi memudahkan dalam kajian arkeologi dan kepurbakalaan, kedua kerajaan ini kemudian diberi nama Kerajaan Mataram Kuno (Ancient Mataram).

** Koreksi dari tulisan sebelumnya ** (thx to Sdr Galy Hardyta )

Mengenai historical timeline dan keberadaan dua wangsa/kerajaan tersebut, beberapa ahli memang masih memperdebatkan. Tapi bila mengacu kepada Prasasti Canggal yang ditemukan di daerah Salam, Magelang (berangka tahun 654 Saka atau 732 M) yang bersifat Hindu-Siwa dan merupakan prasasti berangka tahun tertua di Jawa, maka dapat dikatakan bahwa Wangsa Sanjaya-lah yang lebih dahulu memerintah di Jawa Tengah. Kedatangan wangsa Syailendra sendiri besar kemungkinan terjadi pada waktu dilakukannya ekspansi oleh Kerajaan Sriwijaya atas tanah Jawa sekitar abad akhir 7 M (tertuang dalam Prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 M).

Peta geopolitik kedua dinasti itu sendiri dapat dijelaskan melalui sejumlah penemuan prasasti dan bangunan candi serta situs-situs purbakala di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Saya mencoba menuliskannya sebagai berikut.

  1. Wilayah pemerintahan wangsa Sanjaya mula-mula berada pada wilayah Jawa Tengah bagian utara (meliputi wilayah dataran tinggi Dieng dan pegunungan Ungaran), kemudian karena suatu sebab, mengalami perpindahan ke wilayah Jawa Tengah bagian timur (dataran Prambanan).
  2. Wilayah pemerintahan wangsa Syailendra berada di daerah dataran Kedu, Magelang yang ditandai dengan peninggalannya berupa Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon.
  3. Keberadaan Dinasti Sanjaya di wilayah Jawa Tengah bagian timur ini dapat dijelaskan oleh Prasasti Kalasan (berangka tahun 700 Saka atau 778 M) yang menyebut nama Rakai Panangkaran (keturunan Raja Sanjaya).
  4. Pemberian tanah hibah di Desa Kalasan dari Rakai Panangkaran (Keturunan Sanjaya) kepada wangsa Syailendra.
  5. Pada hakekatnya sebuah “tanah hibah” milik keluarga Sanjaya pastilah berada di dalam wilayah kekuasannya.
  6. Masa penyatuan 2 keluarga/wangsa terjadi pada masa pemerintahan Rakai Pikatan yang menikah dengan Pramodhawardhani, Putri Samaratungga dari Wangsa Syailendra.
  7. Selanjutnya peta geoplolitik di wilayah Jawa Tengah menjadi satu kesatuan di bawah pimpinan Wangsa Sanjaya.

Diantara sejumlah bangunan dan situs bersejarah peninggalan Hindu-Budha yang telah diketemukan kembali (spesifik berupa Candi), hampir dapat dipastikan bahwa 40%nya berada di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah (±40 buah). Adapun bangunan-bangunan yang merupakan peninggalan dan manifestasi dari Kerajaan Syailendra adalah Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Kalasan dan Candi Borobudur sebagai masterpiece. Sedangkan yang termasuk peninggalan dan manifestasi dari Kerajaan Sanjaya adalah Candi Sambisari, Candi Dieng, Candi GedongSanga dan Candi Prambanan sebagai masterpiece.

Ancient Fortress

Mengingat jumlahnya yang begitu banyak, maka sangatlah mungkin mengatakan bahwa kedua kerajaan besar tadi memiliki pengaruh langsung terhadap keberadaan candi-candi tersebut. Saya mengatakan “kedua kerajaan” adalah dalam pengertian, “bangunan-bangunan tersebut merupakan semacam Joint Venture antara keduanya”. Fakta ini berangkat dari penemuan sejumlah candi berlainan corak (Hindu-Budha), yang terletak berdampingan di dalam satu kawasan (Candi SewuPrambanan). Hal ini menandakan telah terdapat suatu harmoni antara penganut agama Budha dengan penganut agama Hindu di wilayah tersebut. Bukti sejarah yang tertuang dalam Prasasti Wantil, Ratu Boko (berangka tahun 856 Masehi) menyebutkan….

“….He was Çaiwa in contrast to the queen, the spouse of the hero; exactly a year was the time of the….?……. stones heaped up by hundreds for his refuge, a killer as fast as the wind ….?…. Bālaputra”

Prasasti tersebut memiliki angka tahun 856 M dan besar kemungkinan di buat pada masa pemerintahan Rakai Pikatan Dyah Saladu (847 -855 M). Kata-kata yang digarisbawahi di atas menyiratkan bahwasanya sang raja (Rakai Pikatan) adalah seorang penganut agama Hindu aliran Siwa yang memiliki seorang ratu yang obviously bukan penganut agama Hindu (in contrast). Karena hanya ada 2 aliran kepercayaan yang umum diterima saat itu (Hindu dan Budha), maka dapat disimpulkan bahwa Ratu tersebut adalah seorang penganut agama Budha. Inilah yang kemudian memunculkan toleransi beragama yang tinggi di antara masyarakatnya mengingat sang Raja adalah penganut Hindu sementara Sang Ratu adalah penganut Buddha. Toleransi inilah yang kemudian berkembang menjadi hubungan dagang dan hubungan bilateral antara dua kerajaan (Syailendra dan Sanjaya).

Atas dasar hal itulah, esensi mengenai tulisan ini bermula. Penulis berpendapat bahwa….

  1. Pembinaan hubungan antara 2 kerajaan hanya mungkin terjadi apabila terdapat suatu AKSES UTAMA yang menghubungkan antara kedua wilayah kerajaan tersebut. Akses utama yang dimaksud dalam hal ini adalah secara fisik berupa JALAN RAYA.
  2. Keberadaan JALAN RAYA tersebut memiliki kaitan erat dengan tinjauan geografis keberadaan candi-candi tersebut yang bersifat sporadis. Bangunan (Candi) yang dibangun oleh pemerintah (Kerajaan), dengan sendirinya pastilah memiliki AKSES dari dan menuju pusat pemerintahan.

Lebih lanjut, apabila kita berkiblat kepada masterpiece dari masing-masing kerajaan tersebut, Borobudur (Syailendra) dan Prambanan (Sanjaya), maka inti dari penulisan ini sebenarnya adalah mengenai “Bagaimana mengetahui secara pasti keberadaan Ancient Road yang menghubungkan antara keduanya?”

Dengan bantuan Google Maps, penulis berusaha memproyeksikan keberadaan situs-situs dan peninggalan purbakala pada masa Hindu-Budha ke dalam sebuah peta dan mengimplementasikannya.

Read more…

Categories: History Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: